Bahlil mengabarkan kesepakatan kerjasama dengan Korea Selatan di bidang pengembangan nuklir. Mencoba menempatkan Indonesia sebagai subyek.
Strategi Menteri ESDM Bahlil Lahadalia merangkul Korea Selatan dalam kerja sama pengembangan nuklir hingga mineral kritis menjadi manuver diplomasi energi yang presisi. Penandatanganan tiga nota kesepahaman tersebut bukan sekadar seremonial di atas kertas, namun langkah konkret menempatkan Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok energi bersih global.
Melalui kolaborasi ini, Indonesia mencoba menyinergikan kekayaan mineral mentahnya dengan keunggulan teknologi yang dimiliki Korea Selatan. Ini menciptakan sebuah ekosistem hilirisasi yang lebih mapan dan berkelanjutan.
Penasihat Ahli Balitbang DPP Partai Golkar, Prof. Dr. Henry Indraguna, S.H., M.H., melihat kerja sama ini sebagai bentuk keberanian politik dalam memperkuat posisi tawar Indonesia. Kerja sama tersebut menjadi diplomasi ekonomi yang terukur.
“Kita tidak hanya menjual dalam bentuk material mentah, tetapi sedang menjemput teknologi tingkat tinggi untuk memastikan kedaulatan energi nasional benar-benar berdiri di atas kaki sendiri,” kata Henry.
Ia menyebut masuknya teknologi nuklir dan hidrogen membuktikan pemerintah sangat serius mengeksplorasi sumber energi alternatif yang stabil. Menurutnya taktik Bahlil mewakili pemerintah mewujudkan transformasi bangsa dari objek menjadi subjek sejarah.
“Negara memang harus memiliki ‘Will to Power’ atau kehendak untuk berkuasa atas sumber dayanya sendiri. Langkah ini adalah manifestasi dari pemikiran progresif,” katanya.
Ditambahkan bahwa hal itu menunjukkan Indonesia sedang berproses dari sekadar ‘being’ atau ada, menuju ‘becoming’ atau menjadi bangsa yang menentukan arah peradaban energi hijau dunia. Prof. Henry Indraguna memilih pendekatan pemikiran Friedrich Nietzsche untuk menggambarkan bahwa kerja sama nuklir tersebut adalah upaya Indonesia untuk menegaskan keberadaannya.
Henry memprediksi Indonesia akan mencapai titik balik dalam ekonomi hijau dan kemandirian teknologi. Tentunya jika kerjasama tersebut bisa direalisasikan. Efeknya tidak hanya menyasar sektor industri, tetapi juga transformasi sumber daya manusia yang lebih berkualitas.
“Jika integrasi teknologi Korea ini berjalan mulus, saya optimis Indonesia akan menjadi ‘hub’ utama energi bersih di Asia. Kita akan melihat lahirnya generasi teknokrat baru yang mampu mengelola nuklir dan mineral kritis secara mandiri, sehingga Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi menjadi pusat inovasi yang disegani di kancah internasional,” kata Henry. RMOLJAWATENGAH



